Keluarga Dipersulit Bawa Jasad Harun Rasyid

Iklan Semua Halaman

Loading...

Keluarga Dipersulit Bawa Jasad Harun Rasyid

28 May, 2019

PORTALBUANA.COM, JAKARTA – Muhammad Harun Al Rasyid (14 tahun), korban tewas akibat tragedi 21-22 Mei yang terjadi di beberapa titik di Jakarta. Meski telah meninggal, namun keluarga korban mengaku kesulitan membawa pulang jasad Harun dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Didin Wahyudin, ayahanda Harun menceritakan hal tersebut usai menyampaikan aduan ke Wakil DPR, Fadli Zon, di Gedung DPR, Jakarta (27/5). Didin menceritakan, Kamis malam (23/5), ia mengutus adiknya untuk mengambil pengantar, berharap jasad anaknya bisa dibawa pulang.

Namun karena dianggap sudah malam, petugas menolak utusan keluarga korban untuk membawa pulang jasad Harun. Utusan keluarga diminta untuk datang esok harinya, pukul 08.00 WIB.

Keesokan harinya (Jumat (24/5), kesedihan bercampur harapan, keluarga korban harus menghadapi kenyataan pahit. Sekitar pukul 09.00 WIB, meski surat pengantar telah ditandatangani oleh Kapolres Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi, namun kesulitan selanjutnya masih ditemui.

Dari penuturan Didin, meski surat pengantar sudah di tangan, namun tak serta merta jasad Harun bisa diambil begitu saja. Ada beberapa syarat yang harus disetujui. Keluarga diminta menandatangani pernyataan, tidak diperbolehkan menuntut atas kematian Harun.

Kesedihan keluarga tak sampai di situ, keluarga tidak diperkenankan melihat langsung jasad korban. Mereka hanya diperlihatkan foto yang diambil di kamar jenazah, dan diminta memastikan apakah itu adalah Harun.

“Anak saya dibunuh, saya merasa ini harus saya tuntut jalur hukum. Karena ini pembunuhan. Pembunuhan dan penyiksaan,” kata Didin.

Setelah melewati berbagai persetujuan, keluarga diperkenankan membawa pulang jasad Harun. Didin mengaku, jasad anaknya telah dirapihkan saat dibawa. Bahkan telah dikafani dan sudah diautopsi. Singkatnya, jasad Harun tinggal dishalati dan dimakamkan.

Saat jasad tiba di kediaman duka, Didin ingin agar kain kafan anaknya dibuka untuk melihat langsung. Dia juga telah menyiapkan peralatan mandi untuk jenazah anaknya.

Terkait penyebab kematian anaknya, Didin belum mengetahui. Hasil autopsi tidak pernah dijelaskan kepada keluarga. Didin hanya mendengar kondisi Harun dari relawan yang sempat membawa anaknya ke Rumah Sakit Dharmais.

Selain itu, apakah anaknya itu meninggal di Slipi atau di Masjid Al Huda, Didi tidak ingin mempersoalkan itu. Tapi yang menjadi persoalan adalah anaknya dibunuh dengan kejam.

“Ini anak di bawah umur, matinya dengan kejam, dan saya harus menuntut. Tidak ada penjelasan, pulang ke rumah sudah rapih dan dioutopsi. Saya hanya lihat wajahnya,” katanya.

Di tempat yang sama, Ismar Syafruddi sebagai kuasa hukum korban tragedi 21-22 Mei mengatakan, dia bersama timnya akan mendampingi korban untuk mencari keadilan. Maka itu, dia datang ke DPR dan Komnas HAM.

Ismar menyampaikan keprihatinan serta khawatir jika pemerintah acuh tak acuh, maupun penegak hukum tidak melakukan pengusutan lebih lanjut atas kasus ini. Kata dia, sebagai warga negara yang paham hukum, dia berharap para pelaku pembunuhan mendapatkan hukuman setimpal.

“Kita menginginkan ini ada peristiwa pidana pembunuhan terhadap WNI, yang artinya sudah mengarah pada tindakan pelanggaran HAM ,” kata Ismar.

Ismar mengaku telah memiliki sekira 32 foto dan video yang sudah diverifikasi sebagai bukti. Bahkan, dia menarget akan mengawal kasus ini sampai ke PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).(indonesiainside)