Anak Disabilitas Tewas Dianiaya di PLAT Pontianak, KPAI Sesalkan Lemahnya Pengawasan

Iklan Semua Halaman

Anak Disabilitas Tewas Dianiaya di PLAT Pontianak, KPAI Sesalkan Lemahnya Pengawasan

28 July, 2019
Foto Komisioner KPAI Bidang Sosial dan Anak Dalam Situasi Darurat, Susianah Affandy (Doc Pribadi)

PORTALBUANA.COM, JAKARTA. - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan tewasnya seorang anak penyandang disabilitas di Pusat Layanan Anak Terpadu (PLAT) Dinas Sosial Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Anak tersebut tewas setelah dianiaya temannya berinisial RD dan WR yang juga menghuni PLAT.

"KPAI menyesalkan lemahnya pengawasan dalam PLAT. Saat kejadian penganiaan, dimana posisi pengasuh, pihak keamanan, pengelola, bagian kebersihan dan sebagainya?,"terang Komisioner KPAI Bidang Sosial dan Anak Dalam Situasi Darurat, Susianah Affandy kepada Covesia.com, Minggu (28/7/2019).

Pihak KPAI kata Susianah Affandy telah melakukan visitasi terhadap keberadaan PLAT di Kota Pontianak, Kalimantan Barat pada Mei 2019 lalu. Dimana, berdasarkan keterangan pihak Dinas Sosial, PLAT ini dulunya berfungsi sebagai tempat rehabilitasi penyelahgunaan Narkoba. 

"Fungsi tersebut dirubah sebagai tempat penitipan sementara anak yang nerkonflik dengan hukum (anak sebagai pelaku pidana). PLAT sendiri letaknya beralamat di Jalan Ampera, di belakang Mapolsek Pontianak, dengan akses jalan menggunakan halaman samping Kantor Polisi tersebut. Jadi gedung Plat posisinya merupakan bagian dari gedung Mapolsek di mana setiap orang yang masuk ke gedung ini akan melewati kantor Polisi yang kemudian menghubungkan dengan bagunan dengan pagar tinggi yang selalu terkunci,"kata Susianah Affandy. 

KPAI kata Susianah Affandy, sangat menyesalkan tempat PLAT yang sesungguhnya menjadi bagian dari Kantor Polisi ini menjadi tempat penganiayaan anak penyandang disabilitas yang tidak berdaya. 

"Kemudian adanya dobel fungsi PLAT. Dari kejadian ini, KPAI segera koordinasi dengan pihak Pemerintah Kota Pontianak karena diduga PLAT menjalankan dua fungsi yang tidak seyogyanya dilakukan,"tambahnya.

Menurut Susianah Affandy, PLAT merupakan tempat penampungan sementara untuk anak  yang berkonflik dengan hukum (anak sebagai pelaku). Ketentuan UU 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur bahwa ketika ada sebagai pelaku maka mereka berhak mendapat pembinaan di lembaga yang sarana dan prasarananya disiapkan oleh Pemerintah.

"Penempatan Anak (pelaku) ABH tentu harus dipisahkan dengan fungsi Rumah Aman bagi anak korban yang menjalani proses rehabilitasi. Dalam kasus tewasnya anak penyandang disabilitas merupakan bukti adanya salah fungsi atau dobel fungsi PLAT sebagai lembaga pembinaan bagi anak ABH. Ini juga difungsikan untuk menampung anak yang membutuhkan rehabilitasi yang seharusnya ditempatkan di rumah aman P2TP2A Kota Pontianak," tutupnya.[cov]
Loading...