WARTAWAN PORTAL BUANA, HANYA TERCANTUM DALAM BOX REDAKSI, DIBEKALI DENGAN KARTU ANGGOTA YANG MASIH BERLAKU, DAN SURAT TUGAS, PASANG IKLAN, KONTAK KAMI VIA WA +6281371101251 -->
Masuk

Notification

×

Iklan

Iklan

GALLERY FOTO


Mengenal dan Mengenang Depati Parbo, Pahlawan Kerinci

Thursday, November 12, 2020 | November 12, 2020 WIB Last Updated 2020-11-12T01:29:46Z


PORTALBUANA.COM - KERINCI. Depati Parbo lahir di Desa Lolo, Kecamatan Gunung  Raya, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi pada tahun 1839 dengan nama asli  Muhammad Kasib. Sedangkan ayahnya bernama Bimbe dan Ibu nya bernama Kembang, Depati Parbo mempunyai tiga saudara perempuan bernama Bende, Siti Makam dan Likom. 


Depati Parbo mempunyai keistimewaan tersendiri, Depati Parbo mempunyai gigi geraham hitam yang mirip besi hingga beliau sering dipanggil "German Besoi" (german adalah geraham dalam Bahasa Kerinci, besoi adalah besi dalam Bahasa Kerinci).


Pada masa mudanya, Depati Parbo adalah anak muda yang suka mengembara untuk menuntut ilmu bela diri seperti silat juga ilmu agama, adat dan ilmu kebatinan. Depati Parbo terkenal seorang yang taat beragama, bijaksana dan ilmu adatnya tinggi sehingga beliau dinobatkan menjadi pemangku adat dengan bergelar Depati. 


Perlu diketahui bahwa, Depati merupakan gelar adat tertinggi di masyarakat adat Kerinci. Maka Muhammad Kasib berubah gelar menjadi Depati Parbo. Depati Parbo menikah dengan seorang gadis bernama Timah Sahara dan mempunyai seorang anak bernama Ali Mekah. Depati Parbo memilih merantau ke Batang Asai sebagai pendulang emas, juga berpindah ke beberapa daerah seperti Rawas di Sumatera Selatan.  Setelah puas melanglang buana dari tahun 1859 sampai 1862, Depati Parbo kembali ke Kerinci.


Belanda datang ke Kerinci awal 1903, kedatangan Belanda disambut oleh 30 hulubalang Kerinci yang dipimpin oleh Depati Parbo di Renah Manjuto, Kerinci Bagian Selatan. Pasukan Belanda yang terdiri dari 300 orang terbunuh dan sisanya lari ke daerah Muko-muko dan Bengkulu. 


Peristiwa heroik ini mengangkat nama Depati Parbo dalam perjuangan masyarakat Kerinci. Peristiwa ini sangat memalukan bagi Belanda, dengan pasukan inti beberapa orang saja bisa membunuh ratusan orang dari pasukan Belanda. Akibat peristiwa heroik ini, Belanda marah besar dan menyerang Kerinci dari tiga penjuru daerah yaitu, Indrapura (Pesisir Selatan/Sumatera Barat), Muko-muko (Bengkulu) dan Jambi.


Belanda mulai menduduki beberapa daerah di Kerinci dan bermarkas di daerah Rawang. Depati Parbo yang berdiam di Desa Lolo  (Daerah Hilir Kerinci) berkeliling membakar semangat masyarakat Kerinci untuk melawan Belanda. 


Untuk sampai di daerah Lolo tempat Depati Parbo berdiam, harus melewati Desa Pulau Tengah dulu, maka Belanda menyerang Desa Pulau Tengah sekitar pertengahan 1903. 


Namun masyarakat Pulau Tengah melakukan perlawanan yang dipimpin Haji Ismael dan Haji Saleh. Kisah heroik ini berhubungan dengan artikel penulis sebelumnya tentang Masjid Keramat di Pulau Tengah yang luput dari peristiwa membumihanguskan Pulau Tengah oleh Belanda. Artikelnya bisa di baca di sini .


Serangan sebanyak tiga kali ini berhasil dipatahkan masyarakat Pulau Tengah. Ketika pemimpin perang Pulau Tengah Haji Saleh gugur di medan pertempuran, Pulau Tengah jatuh ketangan Belanda. Jalan menuju Desa Lolo tempat pasukan Depati Parbo berpusat semakin terbuka. Belanda menyusun serangan ke Desa Lolo, pusat perjuangan rakyat Kerinci dibawah pimpinan Depati Parbo.Pertempuran itu pun terjadi, walau persenjataan Belanda lebih modern dari pasukan Depati Parbo.


Namun, Depati Parbo menguasai medan pertempuran hanya bersenjatakan keris, pedang dan tombak. Sedangkan dari pihak Belanda terus menambah kekuatan dengan mendatangkan pasukan yang lebih banyak dari daerah luar Kerinci. Depati Parbo dan pasukan menyingkir melakukan perang gerilya.


Belanda berpendapat sebelum Depati parbo ditangkap, maka Kerinci belum dikuasai dan perang masih berlanjut. Belanda dengan akal liciknya menawarkan perundingan ke pihak Depati Parbo namun tidak digubris. Ajakan berunding ini adalah akal ingin menangkap Depati Parbo. Keluarga Depati Parbo ditangkap dan diancam akan dibunuh, itulah yang menyebabkan Depati Parbo keluar dari persembunyian


Meja perundingan hanya akal bulus Belanda, Depati Parbo ditangkap dan dibuang ke Ternate, Maluku selama 22 tahun. Selama di pembuangan Depati Parbo terkenal bisa mengobati (tabib/dukun), dan anak Assisten Residen Belanda pernah diobati. 


Depati Parbo kembali ke Kerinci pada tahun 1926 setelah permohonan surat ke Residen Ternate dikabulkan dan juga jaminan dari seluruh Depati Kerinci. Menimbang Depati Parbo usianya sudah lanjut, kira-kira berusia 87 tahun. Walaupun sudah lanjut usia, pada tahun 1927 Depati Parbo menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Depati Parbo meninggal dunia dua tahun kemudian setelah kepulangannya dari Mekkah dalam usia 90 tahun.


Perjuangan Depati Parbo menjadi legenda dan sangat bersejarah bagi masyarakat Kerinci. Walaupun seluruh masyarakat Kerinci di masa itu sama-sama berjuang namun kepemimpinan Depati Parbo sangat heroik dan dikenang. 


Untuk diketahui, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kerinci sejak tahun 1970, sudah mengusulkan Depati Parbo menjadi Pahlawan Nasional. Tapi sampai saat ini belum dikabulkan. Walaupun begitu Depati Parbo hidup dalam semangat masyarakat Kerinci. Depati Parbo adalah pahlawan di Bumi Sakti Alam Kerinci.


Selamat Hari Pahlawan 10 November, semoga kita bisa mengambil semangat perjuangan dari pahlawan-pahlawan bangsa. (Dede)


Dikutip dari, Kompasiana.com

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update