WARTAWAN PORTAL BUANA, HANYA TERCANTUM DALAM BOX REDAKSI, DIBEKALI DENGAN KARTU ANGGOTA YANG MASIH BERLAKU, DAN SURAT TUGAS, PASANG IKLAN, KONTAK KAMI VIA WA +6281371101251 -->
Masuk

Notification

×

Iklan

Iklan

Penemuan Spektakular Tim Peusaba Aceh dalam Ekspedisi Kuta Peusangan.

Friday, February 05, 2021 | February 05, 2021 WIB Last Updated 2021-02-05T01:06:36Z


PORTALBUANA.COM - ACEH. Tim Peusaba Aceh Dengan koordinator Muammar Al Farisi  melakukan ekspedisi sejarah ke kawasan Kuta Peusangan Kabupaten Bireuen Aceh Darussalam, dalam rangka menelusuri dan mengungkap peninggalan sejarah Aceh di kawasan tersebut pada Sabtu, 23/1/2020.


Nama Peusangan sudah lama tertulis dalam naskah lama berbahasa Arab Melayu Aceh. Hikayat Raja Pase, salah satu hikayat tertua di Aceh yang diperkirakan ditulis pada tahun 1351, telah menyebutkan nama Peusangan dan Bireuen.


Dalam hikayat Raja Pasee terdapat  cerita tentang dua orang Raja yang bersaudara, yaitu Raja Ahmad dan Raja Muhammad yang berdiam di negeri Samarlanga. Dalam hikayat itu juga diceritakan bagaimana Meurah Silue (Sultan Malikussaleh) dan Meurah Hasum melanjutkan perjalanan ke Bireuen, kemudian keduanya berdiam di dekat Sungai Peusangan. Setelah itu Meurah Silue pindah ke Samudera Pasai dan menjadi Sultan  di Kerajaan Samudera Pasai. 


Hikayat Malem Dagang adalah hikayat yang menceritakan ekspedisi Sultan Iskandar Muda (1607-1636)  yang terkenal melawan Raja Si Ujud atau Portugis di Malaka. Untuk melawan Raja Si Ujud, yang pertama didatangi oleh  Sultan adalah Panglima Pidie, Jenderal terkuat kesultanan Aceh Darussalam. Panglima Pidie bergelar Maharaja Indra. 



Di Meureudu Sultan berhasil mengajak Ja Faqeh seorang ulama besar dan Malem Dagang, untuk ikut memerangi Raja Si Ujud atau Portugis di Malaka. Perjalanan dilanjutkan ke Samalanga disambut oleh Panglima Samalanga yang bergelar Maharaja, kemudian dilanjutkan ke Peusangan dan disambut oleh Panglima Peusangan. 


Ketika Sultan Iskandar Muda tiba di Peusangan Sultan Iskandar Muda kagum dengan kisah kedermawanan Raja Deurema yang diceritakan oleh Ja Faqeh, bahwa Raja Deurema menjual kain limong haih samah atau 5 hasta seemas atau sedirham tanpa mengambil keuntungan, untuk membantu rakyat yang miskin. 


Raja Deurema adalah Raja di Gampong Raya Peusangan, sebelum kesultanan Aceh Darussalam dipersatukan oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1507-1530). Raja Deurema menurut hikayat menikah dengan Siti Bangsawan anak Meureuhom Peudada (1507 M), masa hidup Raja Deurema jauh sebelum masa Sultan Iskandar Muda. 


Iskandar Muda yang kagum dengan kedermawanan Raja Deurema, yang menjual murah demi membantu rakyatnya, terinspirasi dan mengatakan akan menjual kain 7 Hasta satu emas atau satu Deureham untuk rakyat miskin, yang dapat digunakan oleh orang miskin dan anaknya. ini terjadi pada era kejayaan kesultanan Aceh Darussalam. Ketika era kemunduran, dalam hikayat Pocut Muhammad, Ija Sihah Samah atau satu hasta satu emas itu sudah tidak menguntungkan lagi bagi pemilik harta,  jauh berbeda dengan masa Sultan Iskandar Muda. 


Hikayat Malem Dagang menceritakan bagaimana Sultan Iskandar Muda meminta Panglima Peusangan ikut serta menyerang Portugis ke Malaka, namun ditolak sebab Panglima Peusangan harus menangkap gajah perang, dan pendapat Panglima Peusangan diterima oleh Sultan Iskandar Muda. Panglima Peusangan kemudian ditugaskan menangkap gajah dan membuat pabrik ulat sutra di Aceh. 


Pabrik ulat sutra Aceh di Peusangan terkenal di dunia bahkan sebelum perang Aceh dengan Belanda. Dalam sejarah, Pasukan Gajah Peusangan yang dikirimkan sangat membantu Sultan Iskandar Muda menaklukkan Deli yang memiliki benteng yang kuat dalam dua pekan, 900 gajah tempur adalah andalan Sultan Iskandar Muda menaklukkan Deli dan seluruh kawasan Melayu yang diserang Portugis, kemudian mengarahkan serangan utama  kepada Portugis di Malaka.  


Dalam Bustanussalatin Ketika Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) berziarah ke Pasai tahun  1638 beliau singgah di kawasan Jeumpa. Sultan Iskandar Tsani bertanya mengapa Pemimpin atau Panglima  dikawasan Jeumpa  datang terlambat, kemudian datanglah Raja Kenayan yang menyatakan Gajah sudah dicari, akhirnya barulah Sultan Iskandar Tsani berangkat ke Peusangan untuk menangkap gajah. 


Hikayat Pocut Muhammad (1735-1760) menceritakan bagaimana rakyat Peusangan menangkap Gajah dipimpin oleh Panglima Keudah. Ketika Gajah yang paling besar dan berbahaya  menyerang Panglima Keudah, dengan tatapan matanya Panglima Keudah dapat menundukkan sang gajah.  


Dalam suratnya kepada Raja Inggris Sultan Iskandar Muda menyebutkan beberapa wilayah penting kesultanan Aceh Darussalam mencakup Lubok (Lamuri), Pidie, Samarlanga, Peusangan, Pasai dan Peurelak dan lainnya, dan di setiap daerah diletakkan Sultan, seperti di Pidie, juga  Panglima atau Gubernur dari kesultanan Aceh, dan pada beberapa wilayah hanya diletakkan Panglima atau Gubernur dari kesultanan Aceh Darussalam. Samudera Pasai kemudian digabungkan dibawah perintah langsung Sultan Iskandar Muda. 


"Dalam Ekspedisi Kuta Peusangan, Tim Peusaba Aceh menemukan makam Raja Deurema,  tokoh yang sesuai dengan isi Hikayat Malem Dagang di kawasan Gampong Raya Tambo Peusangan,  serta makam keluarga Raja abad ke 16 M yang tak jauh dari makam Raja Deurema, dan Tim juga menemukan beberapa makam lain seperti makam Cut Ponde di kawasan Gampong Babah Jurong Kutablang. Tim juga menemukan makam abad 15 Masehi tak jauh dari makam Cut Ponde" demikian penjelasan sejarah menurut koordinator ekspedisi Muammar Al Farisi. 


"Ini menandakan kawasan Peusangan adalah kawasan situs sejarah penting Aceh yang memerlukan perhatian dan penelitian mendalam. Penemuan ini menandakan bahwa pada masa lalu kawasan Jeumpa dan Peusangan merupakan kawasan penting Kesultanan Aceh Darussalam dan Pemerintah perduli dan sebaik mungkin menggunakan dana di Aceh untuk melestarikan sejarah dan situs Aceh Darussalam bek Hana meuso dan Hana meuho peu abeh peng Aceh hasee Tan sapue.  keuneubah Indatu situs sejarah adat budaya  ilee ta jaga (enggak tahu kesiapa dan kemana uang Aceh dikasih hasilnya tidak ada pemerintah seharusnya lebih duluan menjaga peninggalan ia indatu situs sejarah adat dan budaya duluan dijaga) " tutup Mawardi Usman, Ketua Peusaba Aceh.( tim) 

No comments:

Post a Comment