WARTAWAN PORTAL BUANA, HANYA TERCANTUM DALAM BOX REDAKSI, DIBEKALI DENGAN KARTU ANGGOTA YANG MASIH BERLAKU, DAN SURAT TUGAS, PASANG IKLAN, KONTAK KAMI VIA WA +6281371101251 -->
Masuk

Notification

×

Iklan

Iklan


 

Tindakan Penipuan oleh Oknum anggota Polsek Senayang F.A Sudah Melangar PERKAPOLRI 14/2011 TENTANG KODE ETIK dan Pidana Umum

Sunday, March 28, 2021 | March 28, 2021 WIB Last Updated 2021-03-28T03:40:53Z


PORTALBUANA.COM - LINGGA. Perbuatan oknum polisi  F.A terkait penipuan yang dilakukan terhadap salah satu nelayan Belakang Hutan Desa Laboh kecamatan  Senayang kabupaten lingga


bukan hanya terjerat pidana umum akan tetapi perbuatan F.A sudah bertentangan dengan 


Kode Etik Profesi Polri

Pelanggaran kode etik profesi anggota Kepolisian Republik Indonesia (“Polri”) dapat dinilai berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia (“Perkapolri 14/2011”).

 

Ruang lingkup etika profesi Polri mencakup:[1]

etika kenegaraan;

etika kelembagaan;

etika kemasyarakatan; dan

etika kepribadian.

 

Pelanggaran etika yang berkaitan dengan tindakan aparat tersebut adalah pelanggaran etika kemasyarakatan dan etika kepribadian.

 

Dari segi etika kemasyarakatan, setiap anggota Polri wajib:[2]

menghormati harkat dan martabat manusia berdasarkan prinsip dasar hak asasi manusia;


Menjunjung tinggi prinsip kesetaraan bagi setiap warga negara di hadapan hukum;

memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan cepat, tepat, mudah, nyaman, transparan, dan akuntabel berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;


Melakukan tindakan pertama kepolisian sebagaimana yang diwajibkan dalam tugas kepolisian, baik sedang bertugas maupun di luar tugas;

memberikan pelayanan informasi publik kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, keadilan, dan menjaga kehormatan dalam berhubungan dengan masyarakat.

 

Di sisi lain, setiap anggota Polri wajib memiliki etika kepribadian, mencakup:[3]

beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;


Bersikap jujur, terpercaya, bertanggung jawab, disiplin, bekerja sama, adil, peduli, responsif, tegas, dan humanis;

menaati dan menghormati norma kesusilaan, norma agama, nilai-nilai kearifan lokal, dan norma hukum;

menjaga dan memelihara kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara santun; dan

melaksanakan tugas kenegaraan, kelembagaan, dan kemasyarakatan dengan niat tulus/ikhlas dan benar, sebagai wujud nyata amal ibadahnya.(28/03/2021)

 

Seketaris P.A.C Relawan Jokowi kecamatan Senayang Sumardi saat memberikan tangapan (28/3/2021sangat menyayangkan sikap F.A 


Jadi, tindakan polisi tersebut dapat dikategorikan melanggar etika profesi Polri. Dalam menjalankan profesinya, anggota Polri harus menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran, keadilan, dan menjaga kehormatan dalam berhubungan dengan masyarakat. Mereka juga harus bersikap jujur, terpercaya, bertanggung jawab, disiplin, bekerja sama, adil, peduli, responsif, tegas, dan humanis.

 

Terkait pelanggaran etik, tindakan yang dilakukan oleh aparat tersebut dapat memberikan penilai an kurang baik terhadap kinerja Polsek Senayang seharus nya Hal di di tindak  bagian profesi  (provos) Polsek Senayang maupun polres lingga

 

pelayanan Polri;

penyimpangan perilaku pegawai negeri pada Polri; dan/atau

penyalahgunaan wewenang.

 

 terahir 

Tindakan polisi tersebut juga dapat dikenakan ancaman tindak pidana penggelapan sebagaimana diatur dan diancam Pasal 372 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) jo. Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP (“Perma 2/2012”) yang berbunyi:

 

Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus ribu rupiah.

 

Yang bersangkutan juga dapat dikenakan ancaman tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dan diancam Pasal 378 KUHP yang berbunyi:

 

Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam pidana penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

 

Jika yang bersangkutan dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan menurut pertimbangan pejabat yang berwenang tidak dapat dipertahankan untuk tetap berada dalam dinas Polri, ia dapat memperoleh rekomendasi pemberhentian dengan tidak hormat.

kita berharap hal ini dapat di tindak agar menjadi contoh bagi yang lainnya nantik nya ucap Sumardi


Buana korban penipuan oleh oknum angota Polsek Senayang insial F.A berharap kepada pihak kepolisian agar membantu mendapatkan hak nya yang sudah ditipu daya oleh F.A yang bertugas di Polsek senayang 


lanjut Buana menjelaskan awal nya F.A datang kerumah nya dengan alasan mau pesan pancang Kelong dan polisi tersebut mengajak saya sekalian pesan 

karena yakin dengan F.A saya kasih uang ke dia sampai mencapai 22.200.000 tapi tunggu punya tunggu tak juga sampai pancang Kelong yang saya pesan


Pernah pada 17/03/2021 saya dan oknum polisi di mediasi di mapolsek Senayang pada saat itu F.A berjanji akan kembalikan dalam waktu 10 hari tapi hari ini sudah masuk hari ke 11 namun tak kunjung di kembalikan. Seharus nya polisi itu melindungi masyrakt bukan menipu macam ini tutup Buana  dengan kecewa


Febri Anton Saat di hubungi media portal buana. sampai berta ini di naikan tidak dapat di hubungi  penulis (Mukhsin)

No comments:

Post a Comment