-->
Masuk

Notification

×

Iklan

Iklan

Bupati Kasmarni Lantik Pejabat Pimpinan Tinggi, Administrator dan Pengawas

Cucu Sultan Aceh Ucapkan Terimakasih kepada Anies Baswedan Atas Peresmian Jalan Laksamana Malahayati di Jakarta.

Wednesday, November 24, 2021 | November 24, 2021 WIB Last Updated 2021-11-24T16:40:01Z


PORTALBUANA.COM - ACEH. Pemimpin Darud Donya Cut Putri mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, atas diresmikannya nama Laksamana Malahayati Pahlawan Nasional dari Aceh, sebagai nama jalan di Jakarta.

Seperti diketahui Anies Baswedan secara resmi menyematkan nama Laksamana Malahayati sebagai nama jalan di Jakarta, dalam acara resmi di Gedung Balaikota Jakarta pada hari Selasa, 23/11/2021. 

"Kami dari keluarga Kesultanan Aceh Darussalam, sangat bersyukur dan berterimakasih atas penghormatan Bapak Anies Baswedan, terhadap jasa neneknda kami Laksamana Malahayati", kata Cut Putri Pemimpin Darud Donya.

Cucu Sultan Jauharul Alamsyah Johan Berdaulat Zilullah Fil Alam itu kemudian menceritakan kilas balik, bagaimana jalannya proses pengusulan Laksamana Malahayati menjadi Pahlawan Nasional pada tahun 2017 lalu.


Cut Putri yang merupakan keluarga dari Laksamana Malahayati, saat itu aktif dalam mensukseskan pengusulan Laksamana Malahayati menjadi pahlawan nasional, dan juga hadir dalam kegiatan-kegiatan terkait, termasuk menjadi narasumber kunci dalam kegiatan verifikasi akhir, yang diselenggarakan di kediaman Wakil Gubernur Aceh pada tanggal 19 September 2017 silam.

Kegiatan verifikasi tersebut dihadiri langsung oleh tim dari Kementerian Sosial yaitu Direktur Kepahlawanan Drs. Hotman, M.Si, yang khusus datang ke Aceh bersama sejarawan nasional, yaitu Dr. Anhar Gonggong dan Dr. Mukhlis Paeni. Ikut hadir bersama Wakil Gubernur Aceh yaitu Kepala Dinas Sosial Aceh beserta jajaran, dan para tokoh sejarawan Aceh diantaranya Rusdi Sufi, Mawardi Umar, Nurdin AR, dan lain-lain

Dalam kegiatan verifikasi tersebut Cut Putri khusus hadir atas permintaan langsung dari warga Lamreh Krueng Raya Aceh Besar, yaitu lokasi makam tempat persemayaman terakhir Laksamana Malahayati. Cut Putri hadir dari Kesultanan Aceh Darussalam dan mewakili keluarga Laksamana Malahayati, untuk memperjelas dan menguatkan kepahlawanan Laksamana Malahayati. Pemaparan Cut Putri saat itu berhasil meyakinkan tim verifikasi dari Kementerian Sosial Jakarta, dengan menguatkan betapa heroiknya Laksamana Malahayati.

"Akhirnya hari itu seluruh hadirin bersepakat bahwa Laksamana Malahayati memang layak dijadikan sebagai pahlawan nasional, dan kami dari Kesultanan Aceh sebagai keluarga Laksamana Malahayati, turut bersyukur dan berbahagia atas kehormatan itu, sebagai teladan bagi generasi penerus bangsa", tutur Cut Putri Pemimpin Darud Donya.

Seperti diketahui Laksamana Malahayati adalah seorang pejuang perempuan Kesultanan Aceh, yang menjabat sebagai Kepala Pengawal Dalam Istana, Kepala Intelijen Rahasia dan Pemimpin Protokol Kesultanan Aceh, pada masa Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV (1585–1604)

Laksamana Malahayati adalah laksamana wanita pertama di dunia, yang memimpin ribuan orang pasukan Inong Balee, yaitu pasukan perempuan Aceh, dengan kekuatan ratusan armada kapal perang Aceh, lengkap dengan segala persenjataan dan meriam-meriam tempurnya.

Laksamana Malahayati juga terkenal di dunia, karena berhasil membunuh Jendral Belanda Cornelis de Houtman, dalam perang tanding pedang satu lawan satu, langsung di atas geladak kapal perang Belanda.

Keberhasilan Laksamana Malahayati membunuh jenderal perang kafir penjajah, dicatat dengan tinta emas dalam sejarah dunia, yang melengkapi kegemilangan sejarah militer Kesultanan Aceh Darussalam.

Sejarah mencatat, bahwa sepanjang ratusan tahun, para Jenderal kafir penjajah tewas bergelimpangan di tangan para pejuang Aceh, baik pejuang laki-laki maupun pejuang perempuan Aceh

"Dalam sejarah dunia, hanya Aceh lah satu-satunya negara di dunia saat itu, yang berhasil membunuh banyak Jenderal besar yang berusaha menjajah Aceh, sehingga membuat kafir Belanda saat itu menjadi bahan olok-olokan dunia", kata Cut Putri Pemimpin Darud Donya.

Keberhasilan penguasaan persenjataan dan sistem perang modern dalam Kesultanan Aceh Darussalam, tak lepas dari bantuan dan jasa baik Turki kepada Bangsa Aceh. 

Dalam sejarah, Sultan Turki Sultan Suleiman Al Qanuni (1520-1566) mengirimkan bantuan militer dan ratusan Perwira Tinggi Pelatih ke Aceh, sehingga Aceh menguasai sistem perang modern saat itu. 

Dalam megahnya sistem pelatihan militer Turki di Bitai Aceh, dan pembuatan persenjataan dan meriam Turki di Gampong Pande, akhirnya lahir para pejuang tangguh Aceh yang mahsyur di dunia. Termasuk Laksamana Malahayati, yang merupakan alumni Ma'had Askery (Akademi Perang) Baital Maqdis Turki di Bitai, demikian juga Sultan terbesar Aceh Sultan Iskandar Muda.

Dengan kemampuan militer yang paripurna, Laksamana Malahayati harum namanya sebagai pahlawan besar Aceh, dan kini telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

"Hari ini nama Laksamana Malahayati juga diresmikan menjadi nama jalan di Jayakarta. Pada zaman dahulu Jayakarta memang memiliki hubungan amat dekat dengan Aceh. Kota Jakarta ini didirikan oleh seorang Jenderal Perang Aceh bernama Fatahillah" terang Cut Putri.

Pemimpin Perang dari Samudera Pasai bernama Fadhilah Khan atau lebih dikenal dengan Nama Fatahillah, adalah pembebas Sunda Kelapa dari Agresi Portugis. 

Dengan bantuan rakyat Sunda Kelapa saat itu yang tidak sudi dijajah, maka Portugis dapat dihancurkan di Sunda Kelapa. Kawasan Sunda Kelapa kemudian dinamakan Jayakarta. 

Jenderal Perang Aceh Fatahillah, atau Fadhilah Khan yang juga disebut Tagaril Khan, kemudian menyebarkan Islam di Jayakarta dengan damai dan sentosa.

Hubungan Jayakarta dengan Aceh terus terbina, bahkan Pelabuhan Jayakarta menjadi pangkalan penting kesultanan di Melayu Nusantara untuk menyerang Portugis di Malaka.Aceh memimpin penyerangan itu, dan berhasil menaklukkan Portugis, dengan merebut kembali Negeri Malaka dari tangan kafir penjajah.

Dalam naungan dan pimpinan Kesultanan Aceh Darussalam, negeri-negeri di Melayu Nusantara kemudian tumbuh berkembang, saling bersaudara dan bekerjasama dalam mengembangkan dakwah Islam ke seluruh kawasan Asia Tenggara.
Print Friendly and PDF