Dinsos Bongkar 'Kebohongan' Nenek 74 Tahun yang Telantar di Simpang Garoga, Misteri Identitas Palsu Akhirnya Terkuak!
DURI, MANDAU – Drama penyelamatan Nenek Dewi Martina (74) yang telantar di Simpang Garoga saat mencari kembarannya, ternyata menyimpan kisah kelam di balik layar. Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bengkalis bersama tim gabungan harus melewati perjuangan luar biasa, bahkan hingga menerima kekerasan fisik dan verbal demi membongkar tabir kebohongan dan misteri identitas palsu yang disembunyikan sang nenek.
Kerja keras yang menguras emosi itu akhirnya membuahkan hasil. Hari ini, Sabtu (23/5/2026) jam 10.00 WIB pagi, sang nenek resmi dijemput oleh anak kandungnya di Panti Al-Huda Duri, Jalan Nusantara, setelah kebenaran berhasil dipaksa keluar.
Misteri ini mulai terkuak ketika pihak Pemadam Kebakaran (Damkar) Kecamatan Mandau bersama Ibu RT dari Rangau menemukan sang nenek telantar hingga jam 5 sore di Simpang Garoga pada 19 Mei lalu. Menyadari ada yang tidak beres, pihak Damkar langsung bergerak cepat menghubungi pihak Dinas Sosial Kabupaten Bengkalis, tepatnya kepada Sri Handayani, S.Psi.
Mendapat informasi darurat tersebut, Sri Handayani bersama tim tanpa ragu langsung merespons tegas, "Iya, kami otw (on the way)!"
Dari titik sinilah, bola panas investigasi menggelinding. Tim Dinsos Bengkalis yang digawangi oleh Lili Suryani, S.Pd.I, Sri Handayani, S.Psi, dan Erde Dayat Tanjung, langsung turun ke lapangan untuk mengambil alih penanganan dan mengevakuasi sang nenek ke Panti Al-Huda Duri, Jalan Nusantara.
Tim Dinsos Bengkalis harus berhadapan dengan watak keras sang nenek selama lima hari masa pendampingan. Lili Suryani membeberkan betapa beratnya proses pendekatan psikologis untuk memancing pengakuan jujur dari lansia tersebut. Setiap kali petugas mencoba mencocokkan data kependudukan dan menggali kebenaran ceritanya, sang nenek langsung meradang.
"Selama proses membongkar kebohongan nenek tersebut, kami di lapangan harus sabar luar biasa. Kami dituduh yang tidak-tidak, bahkan sampai diludahi dan dimaki-maki oleh beliau karena dia merasa tersudut," ungkap Lili Suryani dengan penuh emosi mengingat perjuangan timnya.
Kebohongan Nenek Dewi akhirnya tak berkutik setelah Lili Suryani, Sri Handayani, S.Psi, Erde Dayat Tanjung, dan tim Capil menyinkronkan data adminduknya lewat sistem. Hasilnya mencengangkan:
Nenek Dewi tercatat sudah 3 kali berpindah-pindah domisili dengan rekam jejak yang sengaja dikaburkan.
Pada dokumen Kartu Keluarga (KK) miliknya, ia gonta-ganti mencantumkan nama orang tua yang berbeda.
Cerita awalnya yang mengaku berasal dari Jalan Pangkol RT 04, Desa Air Mesu, Bangka Belitung demi menemui kembarannya bernama Dewi Marsina (istri Yono/ibu Ernita), diduga kuat merupakan bagian dari skenario yang ia susun sendiri demi menutupi sesuatu.
Fakta mengejutkan lainnya yang terungkap dari hasil pelacakan data adalah terkait domisili barunya. Ternyata, saat ini si nenek itu sendiri yang sedang mengurus dan merampungkan proses pemindahan data kependudukannya secara sepihak dari Bangka Belitung untuk dialihkan ke alamat baru, yaitu:
Desa/Kelurahan Labuhan Tangga Hilir, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.
Setelah pertahanan psikologisnya runtuh dikepung bukti otentik dari Dinsos dan Capil, pada Jumat (22/5) sore, sang nenek akhirnya menyerah dan memberikan nomor telepon anak kandungnya yang ternyata tinggal menyeberang di Pulau Bengkalis.
Tepat hari ini, Sabtu (23/5) pukul 10.00 WIB, sang anak datang menjemput ibunya dengan difasilitasi oleh Dinas Sosial Kabupaten Bengkalis.
Sinergi respons cepat dari Damkar Mandau, Ibu RT Rangau, serta ketegasan yang dibalut kesabaran dari Lili Suryani, Sri Handayani, dan Erde Dayat Tanjung, berhasil menyudahi pelarian misterius sang nenek dan mengembalikannya ke pelukan keluarga dengan selamat, sembari menyisakan tanda tanya besar terkait motif manipulasi data yang dilakukannya.(Erwin)





