-->
BREAKING NEWS

Sisi Gelap Bocah 13 Tahun: Dari Kasus Pencurian hingga Kabur dari Koramil, UPT Rumah Singgah Dinsos Bengkalis Selamatkan Fajar ke Panti Asuhan Al-Ghasyiyah!

DURI – Kisah memilukan sekaligus menggugah nurani datang dari wilayah Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun bernama Fajar Ramadhan, yang kerap meresahkan warga akibat tersangkut masalah sosial dan tindakan pencurian, akhirnya berhasil diselamatkan melalui pendekatan humanis. Berkat gerak cepat Kepala UPT Rumah Singgah PMKS Kecamatan Mandau, Harzulkifli, S.H., bersama Staf Rumah Singgah Sri Handayani, S.Psi., dan TKSK Lili Suryani, S.Pd.I., Fajar kini resmi mendapatkan kesempatan kedua untuk membina diri dan disekolahkan melalui Yayasan Panti Asuhan Al-Ghasyiyah, Kamis (29/10/2026).

Peristiwa ini bermula sekitar pukul 13.00 WIB ketika Kepala UPT Rumah Singgah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kecamatan Mandau, Harzulkifli, S.H., menerima pengaduan warga Kelurahan Balik Alam. Warga mengantarkan Fajar Ramadhan (13) ke kantor UPT Sosial setelah bocah tersebut tertangkap basah saat hendak mencuri di salah satu masjid di wilayah tersebut.

Mendapat informasi tersebut, Harzulkifli segera mengarahkan tim teknis Rumah Singgah, yakni Sri Handayani, S.Psi., dan TKSK Lili Suryani, S.Pd.I., untuk bergerak melacak latar belakang sang anak. Dari penelusuran awal, Fajar diketahui merupakan anak dari pasangan Musrizal (ayah kandung) dan Wagiyah (ibu kandung), dengan ayah tiri Mulyadi serta nenek bernama Sumini, yang beralamat di Jalan Rambutan RT 024, Dusun Pematang Padang, Kecamatan Tanah Putih.

Namun, saat tim Dinsos berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kecamatan Tanah Putih hingga berhasil menghubungi Ketua RT 024 setempat, terungkap fakta mengejutkan. Pihak pemerintah desa dan kecamatan setempat mengaku sudah angkat tangan menghadapi perilaku Fajar yang kerap berurusan dengan polisi dan dinas sosial.

"Pak  RT menceritakan bahwa sehari sebelumnya Fajar sebenarnya sempat diamankan di Markas Koramil Tanah Putih. Namun, sebelum tim tiba untuk membina, dia sudah kabur duluan hingga akhirnya sampai ke Balik Alam dan tertangkap warga di masjid," terang Lili Suryani.

Di balik jejak kejahatan kecil yang dilakukannya, terkuak penderitaan mendalam yang dialami Fajar. Anak yang hanya sempat menuntaskan kelas 1 Sekolah Dasar ini mengaku merasa asing dan tidak nyaman tinggal di rumahnya.

Perpindahan pengasuhan akibat perceraian orang tua sejak ia masih kecil, ditambah ketiga kakaknya yang sudah berumah tangga dan fokus pada kehidupan masing-masing, membuat Fajar terisolasi. Tinggal bersama nenek dari pihak ibu pun tidak memberinya kehangatan, lantaran sang nenek harus membanting tulang mencari nafkah.

"Fajar bercerita kalau sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang yang cukup. Dia tidak pernah memegang uang apalagi diberi uang jajan oleh keluarganya. Dorongan ingin jajan seperti anak-anak sebayanya itulah yang nekat membuatnya kerap mencuri," ungkap Sri Handayani, S.Psi., saat melakukan pendekatan psikologis dan mendampingi proses penggalian latar belakang anak tersebut.

Menyadari bahwa hukuman semata tidak akan menyembuhkan luka batin Fajar, Harzulkifli, S.H., bersama Sri Handayani, S.Psi., dan tim mengambil langkah edukatif yang menyentuh nurani sang anak dengan menyodorkan dua pilihan hidup.

"Kami beri dia dua pilihan tegas. Pilihan pertama: dia bebas kemana saja, tapi hidupnya akan terus berurusan dengan polisi dan Dinas Sosial. Pilihan kedua: kalau mau sekolah, kami sekolahkan. Fajar langsung menjawab siap untuk bersekolah dan berjanji siap diusir jika membuat masalah lagi," tegas Harzulkifli, S.H.

Merangkul komitmen tersebut, UPT Rumah Singgah langsung mengontak Ketua Yayasan Panti Asuhan Al-Ghasyiyah, Bapak Simri Imran. Dengan tangan terbuka, pihak yayasan menyambut niat baik tersebut untuk menyelamatkan masa depan Fajar, dengan kesepakatan bahwa jika terjadi pelanggaran fatal, Fajar akan dikembalikan ke Dinas Sosial.

Kini, Fajar Ramadhan telah resmi diterima dan diserahkan untuk menjalani pembinaan moral serta melanjutkan pendidikannya di Yayasan Panti Asuhan Al-Ghasyiyah. Langkah responsif ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam memberikan perlindungan dan kesempatan kedua bagi anak-anak rentan di wilayahnya.(Erwin)




Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment